February 25, 2021

Mengikat Hikmah

Memungut remah-remah hikmah disekitar kita

Baca tulisan sudah tak jaman?

4 min read
Menigikat Hikmah

Mengikat Hikmah – Menulis sampai mati. Itulah salah satu Ikrar yang terlanjur  “terpatri” dalam hati ini. Hingga kini masih “terpatri”. Dalam naungan kecintaan dan hoby. Juga salah satu sarana berbagi. Meski dalam perjalanannya, kadang mengendur dan menguat lagi.

Namun entah mengapa, belakangan menguat lagi. Bahkan tak tahan lagi. Serasa mencapai puncak “ereksi”. Biasanya kalau sudah begini, butuh media penyaluran biar bisa tidur nyenyak lagi. Hi..hi..

Saya pun membuka kembali laman Blog Pribadi, yang dulu biasa jadi media penyaluran ketika “ereksi”. Ternyata sudah mati. Akibat sewa “Hosting” yang tak dibayar tempo hari. Makanya harus dimulai dari awal lagi.

Untuk membangun dari awal lagi, saya kembali mencari informasi kesana kemari. Bergabung kembali dengan komunitas-komunitas penulis, penggiat blog pribadi. Berharap mendapat masukan disana sini.

Anehnya, komunitas-komunitas itu kini begitu sepi. Ketika membuka ruang diskusi, hanya satu dua orang yang menaggapi. Itu pun mengarah pada informasi-informasi sedih, menyayat hati. Intinya, menulis sudah tak jaman lagi. “Sekarang mending nggak usah bikin blog pribadi lagi. Sudah tak prospek lagi”. Begitu mereka menanggapi.

Ternyata ,kini ada kecenderung khalayak makin tak berminat membaca tulisan lagi. Terutama dikalangan milenial, “generasi Z” masa kini. Mereka lebih suka “melahap” informasi-informasi siap saji. Melalui chanel Youtube yang makin membanjiri dunia maya saat ini. Buat apa repot-repot membaca teks lagi. Begitu kira-kira mereka berdalih.

Makanya dua tahun belakangan, para penulis terkenal  banyak yang berimigrasi. Dari “Bloger” menjadi “Youtuber”, atas nama mengkuti tren masa kini. Sebut saja salah satunya Raditya Dika. Yang dulu dikenal sebagai penulis dan “Bloger” sejati. Ternyata hampir dua tahun belakangan, blog pribadinya pun tak pernah di update lagi.

Tadinya, saya sebenarnya sempat juga ciut nyali.. ups. Berbagai pertanyaan sempat menyesaki dada ini. Apakah saya juga harus ber imigrasi meninggalkan literasi?. ”Mengungkai”  Ikrar  yang pernah terpatri dihati ini?. Demi mengkuti  tren masa kini?

Sebagai pengajar , pecinta dan penghoby  litrasi, Apa kata dunia kalau saya ikut pula lari?. Begitu banyak hutang budi saya pada literasi.  Apa pula kata mahasiswa saya nanti?. Biarlah fenomena ini membuat saya begitu prihatin dan sedih. Namun saya tidak boleh lari. Begitu tekad saya kini.

Lagian, sebenarnya fenomena ini bukanlah hal baru.  Dulu “euphoria”  menonton juga pernah terjadi pada generasi 20-an. Tepatnya, ketika media televisi ditemukan. Literasi pun jadi sepi.

 Bedanya, tahun 20-an euphoria menonton  terjadi di dunia nyata. Saat ini euphoria mononton di Indonesia kembali terjadi di dunia digital, atau lebih dikenal dengan dunia maya.

Namun satu hal yang perlu kita sadari bersama. Antara literasi dan menonton, merupakan hal berbeda. Literasi tak bisa digantikan dengan tontonan. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan tersendiri.

Literasi misalnya, merupakan sarana paling efektif membangun imajinasi. Terutama bagi anak-anak dan generasi muda. Imajinasi adalah daya pikir untuk membayangkan atau menciptakan gambar kejadian, berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang secara umum.

Begitu pentingnya imajinasi bagi seseorang, hingga Albert Einstein pernah mengatakan; Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. Pengetahuan terbatas, sedangkan imajinasi seluas langit dan bumi. Imajinasilah yang melahirkan kreativitas. Setiap orang mempunyai imajinasi yang unik dan menarik, sehingga hal ini membuat seseorang berbeda dengan lainnya. Imajinasi juga aspek penting untuk kesehatan kita dan telah terbukti secara ilmiah

Semantara tontonan merupakan wujud dari imajinasi seseorang. Ketika menonton, secara tak langsung kita menyetujui hasil imajinasi seseorang. Hasilnya, pola pikir kita cenderung terpaku tanpa improvisasi. Dimana lambat laun, bisa saja membunuh kreativitas, terutama generasi muda,  Alamak..

Dari imajinasi saja, terlihat jelas pebedaan antara litersi dengan tontonan. Namun jangan salah, tontonan juga memiliki kelebihan-kelebihan yang tak dimiliki literasi.

Lalu apakah kita akan bersikap cuek dalam membangun imajinasi anak-anak dan generasi muda kita? Dengan meninggalkan literasi?, karena tren yang saat ini tengah menjangkiti generasi muda kita?. Atau atasnama lebih prospektif,untuk mengahasilkan pundi-pundi uang kita?

Menurut saya, ada baiknya kita turunkan tensi dan ego kita. Alangkah lebih baik, jika kita bisa mengkolaborasikan keduanya. Saling melengkapi. Tanpa harus mengatakan dan mengaminkan, bahwa literasi sudah tak jaman lagi. Mari membaca, menulis dan menonton, dalam proporsi masing-masing.

Pokoknya saya akan menulis lagi. Mau dibaca atau tidak, tak peduli. Dikritik kalimatnya tak sesuai EYD, juga terimkasih. Saya akan coba terus memperbaiki. Harus saya akui, semangat untuk menyampaikan isi pesan agar menarik, kadang membuat saya lupa diri.

 Ada yang menuding, tulisan saya tak mencerminkan kalau saya akdemisi. Sehingga kalimat yang saya gunakan tak lagi sesuai dengan ketentuan Bahasa Indonesia murni. Salah sendiri, inikan bukan karya ilmiah seperti Jurnal dan Skripsi. Tapi saya tetap akan berusaha memperbaiki.

Toh.. bagi saya menulis, bukan semata untuk menunjukkan bahwa saya hebat dan ahli. Lalu untuk menghasilkan pundi-pundi? Tak juga dapat saya pungkiri. Dari pada Laman pribadi yang baru dimulai ini, kembali mati. Hi..hi..

Lagian, kemajuan teknologi saat ini juga telah memungkinkan kita untuk mengkolaborasikan antara tontonan dan literasi. Jadi bagi penulis dan penggiat laman pribadi, mari kita jadi Yuotuber tanpa meninggalkan literasi. Demi tanggungjawab kita pada generasi muda nanti.

Sebenarnya, saya pun penasaran, untuk mencoba membuat chanel Youtub saat ini. Siapa tahu saya nanti saya bisa pula jadi selebriti.. hi..hi..

Teratak, Rumbio Jaya, Kampar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © mengikat-hikmah | Newsphere by AF themes.