February 25, 2021

Mengikat Hikmah

Memungut remah-remah hikmah disekitar kita

Covid-19 Sebuah Konspirasi?

4 min read

Bosan, lelah dan ketidak pastian berbaur jadi satu. Membara bak api dalam sekam. Menyertai  pandemi covid-19 yang terus mengancam. Ditambah keganjilan-keganjilan yang ditemukan. Dibumbui informasi-informasi “gila” berseliweran. Siap melumat  kewaspadaan jadi kebablasan. Ketidak pedulian.

Mengikat Hikmah –  Lelaki paruh baya itu hanya bisa termangu, seakan tak habis pikir. Mengapa isterinya yang sudah hampir lima tahun mengidap TBC dan sedang menjalani perawatan rutin dirumah sakit itu, tiba-tiba harus di isolasi. Dijadikan sebagai salah satu pasien dalam perawatan (PDP) Covid-19.

Saat ditemui di kediamannya, sebuah gubuk papan di tengah perkebunan karet yang berjarak sekitar 12 km dari jalan Raya Pekanbaru-Bangkinang itu, ia mengaku masih bingung, tak mengerti. “padahal sehari-hari, kami hanya disini saja. Tak pernah kemana-mana”. Ungkapnya ketika ditanya sebelumnya pernah kemana saja.

Kejadian itu bermula, saat isterinya mulai sering batuk-batuk. Karena pernah punya riwayat TBC, mereka pun berinisiatif memeriksakan diri kesalah satu rumah sakit di Pekanbaru. Saat diperiksa, ia pun dikasih obat dan diperbolehkan pulang. Namun disuruh datang lagi, untuk pemeriksaan lebih lanjut. Saat datang kedua kali itulah, isterinya kemudian tak diperbolehkan pulang lagi. Harus menjalani isolasi, karena termasuk kategoti PDP.

Beruntung keadaannya tak semakin parah. Sebelum lebaran Idil Fitri lalu, isterinya diperbolehkan pulang. Berkumpul kembali bersama keluarga, dinyatakatan negatif Covid-19.

Kejadian diatas, tentu saja hanya sebagaian kecil dibalik Pandemi Covid-19 yang saat ini sedang mengguncang dunia.

Belum lagi dari keluarga yang dinyatakan meninggal akibat Covid-19, yang keluarganya kemudian menceritakan versi menurut mereka. Sampai saat ini, masih belum percaya. Bahkan tak bisa menerima.

Bayangkan saja seandainya PDP yang punya riwayat TBC di atas, keadaannya makin parah dan meninggal dunia. Atau penderita penyakit Jantung PDP yang terkejut dan tertekan, karena dinyatakan positif Covid-19 lalu meninggal. Apakah meninggalnya disebabkan Covid-19? Atau malah karena jantungan? Tentu hanya dokter dan Tuhanlah yang tahu. He..he..

Inilah yang kemudian melahirkan keraguan.

Lalu mungkinkah pandemi ini terlalu dibesar-besarkan?. Hingga menimbulkan kepanikan. Bahkan ketakutan yang berlebihan?. Tanpa kita sadari, malah perlahan mendegradasi iman. Bayangkan, orang lebih takut Covid-19 ketimbang Tuhan.

Kalau sudah begini, bukan hanya melahirkan keraguan. Bisa-bisa malah mehirkan “dugaan”. Bahkan “kecurigaan”.

Belum lagi dari informasi yang berseliweran. Mengatakan Covid-19 ini segaja diciptakan. Para elit Global untuk sebuah kepentingan.

Lantas, Siapa pula para elit global atau yang sering disebut Globalis ini?

Seperti ditulis mantan Staf khusus Kementrian pertahanan RI, yang juga pengajar Sekolah Tinggi Intelijen Nasional, Dr. Mardigu WP, Globalis merupakan elit global dunia yang menguasai 60 persen ekonomi dunia. Mereka tidak nasionalis. Agamanya kapitalis dan sangat buas. Memangsa apa saja demi uang. Karena memang uanglah “Tuhan” mereka.

Mereka mengendalikan dunia melaui berbagai bidang strategis yang dikuasai secara global. Ada yang melalui Telekomunikasi, teknologi informasi, sosial media, currency dan Pharmacy serta sumber energy. Ada juga dibidang Wallstreet, manufaktur dan bidang strategis lainnya.

Tragisnya, demi sebuah tujuan, mereka akan melakukan apa saja. Menyingkirkan dan mengorbankan apa saja, termasuk nyawa manusia. Obsesi mereka menguasai dunia.

Bentuknya apa saja, tergantung tujuan mereka. Dalam keyakinan dan agama, bisa dalam bentuk isu Teroris misalnya. Pun dalam bidang Phamarcy, seperti Corona. Begitu juga bidang ekonomi, cari jawaban sendirilah. He..he..

Kembali ke Corona. Dalam teori-teori  konsfirasi, kita akan menemukan berbagai macam ulasan. Salah satunya, virus ini sebenarnya diciptakan. Diciptakan dari virus Corona yang sudah 14 tahun lalu di temukan.

Oleh penciptanya, virus ini diinjeksi dengan berbagai cairan kimia dan dibiakkan. Hasilnya, virus ini akan menjadi sangat rentan dengan penyakit-penyakit yang sudah ada. Penyakit yang menyebabkan angka tertinggi tingkat kematian di dunia. Seperti diabetes, kangker, paru, dan jantungan. Intinya, Virus ini kemudian dibagi dalam tiga varian. Ada yang varian untuk benua Eropa, Amerika dan Asia.

Dalam teori konspirasi, sebenarnya Covid-19 bukanlah satu-satunya upaya. Jauh sebelumnya hampir setiap tahun terutama menjelang musim haji, ada saja isu terkait virus. Mulai dari virus Sars, Mers Avian ifluenza dan sebagainya.

Hanya saja Covid-19, demikian dahsyatnya. Melampaui angka 9,3 juta kasus di dunia. Mengapa? Bisa jadi pemilihan timingnya dan kematangan rekayasa. Pas menjelang pemiliu negara adidaya Amerika, yang memiliki banyak kepentingan disana. Pas ketika teknologi informasi, sedang booming diberbagai belahan dunia. Juga tujuan dan kepentingan lainnya.

Tentang Amerika yang menjadi angka kasus teringgi di dunia, pun tak luput dari teori konspirasi yang menyertainya. Salah satunya dikaitkan dengan proyek sevensigma. Sevensigma adalah proyek globalis yang menciptakan human like droid. Boneka robot yang persis mirip manusia.  Dimana pabriknya berada Mineapolis, salah satu negara bagian Amerika. Sebelum terbakar ketika demo besar-besaran di Amerika beberapa waktu lalu, termasuk pabrik  yang dijaga ketat pemerintah.

Apa hubungannya? Terkait banyaknya korban Covid-19 yang memenuhi rumah sakit-rumah sakit di Amerika, menurut teori konspirasi bukanlah manusia. Melainkan robot persis mirip manusia, yang di follow up media-media milik mereka.

Apakah itu fakta? Entahlah. Saya sendiri masih yakin virus corona atau Covid-19 itu ada. Kita mesti tetap waspada. Namun tak dipungkiri, kadang terkesan “menyanyah”. 

Namun ketika menyimak fenomena dan fakta-fakta yang terjadi disekitar kita, rasanya tak salah juga jika akhirnya berujung keraguan. Parahnya, sebagian masyarakat kita malah ada yang kebablasan. Berujung pada ketidak percayaan. Hingga menggap covid-19 hanya “pepesan” para elit global yang punya kepentingan.

Disini saya juga tak ingin menyalahkan pemerintah. Karena jujur kita semua dibuat kebingungan. Tak ada kepastian.

Bebrapa bulan yang lalu, saya termasuk salah seorang yang menyarankan masyarakat agar tak harus memakai masker. Masker hanya wajib dikenakkan para petugas kesehatan. Begitu yang sering saya sampaikan. karena pemerintah, bahkan WHO sendiri menyampaikan demikian.

Tapi belakangan malah sebaliknya. Ada anjuran dan himbauan dimana-mana. Setiap keluar rumah harus menggunakan masker. Karena Covid-19 bisa menyebar melalui udara. Bahkan diaturan baru, pengendara bisa saja ditilang karena tak mengenakkan masker. lha Ini bagaimana? Trus tentang berita terkait ditemuakannya obat dan vaksin? Wallahualam.

Yang jelas, Covid-19 telah banyak memeberi kita hikmah dan pejaran. Mari kita pungut remah-remahnya.***

Rumbio Jaya, 28 Juni 2020

Suardi, dosen prodi Komunikasi FDK UIN Suska Riau

1 thought on “Covid-19 Sebuah Konspirasi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © mengikat-hikmah | Newsphere by AF themes.