February 25, 2021

Mengikat Hikmah

Memungut remah-remah hikmah disekitar kita

Keadilan Allah dalam kerasnya proses kehidupan

3 min read

Oleh Suardi

Sekeras apa pun hidup, jangan pernah menyerah. Karena itulah yang akan membuatmu kuat. Menjadikanmu sadar dan bersyukur akan nikmatnya.

Mengikat Hikmah – Surabaya, Pare, Kediri. Tahun 2017 lalu. Disebuah lembaga kursus Bahasa Inggris. Sebagai siswa baru, kami empat orang dosen dari FDK UIN Suska Riau. Dijamu dalam sebuah acara bertajuk Parewell Partty.

Setelah berbagai pertunjukan, dari teman-teman sekelas. Semuanya, rata-rata para siswa-siswi SMU. Tiba-tiba salah seorang dari kami di panggil memberikan sambutan. Mungkin hanya perwakilan, pikirku. Ternyata tak sampai disitu. Tiba-tiba dari pengeras suara yang ada, gilaran namaku yang dipanggil pula.

Alamak,..! harus menyampaikan apa? Bisikku pada MC. Pokoknya cerita pengalaman apa saja. Yang penting ada hikmah didalamnya. Ungkapnya, sambil mempersilakanku ke podium. Setelah menyapa hadirin, dan memeperkenalkan diri dalam bahasa Inggris seadanya. Untung penulis tiba-tiba ingat sebuah kisah. Entah dari mana sumbernya. Tapi diceritakan dalam bahasa Indonesia.

Tentang dua pohon kayu berjenis sama. Tapi nasibnya beda. Pohon kayu yang satu, tumbuh didasar lembah. Ditanah subur, di tepian anak sungai yang selalu mengalir airnya. Namun pohon yang satunya lagi, justru sebaliknya. tumbuh ditanah keras, diantara lereng batu cadas. Di kaki bukit di tepian lembah.

Jika pohon didasar lembah begitu subur. Dengan ranting dan daun lebat, yang rimbun dan menghijau. Pohon dilereng bukit justru sebaliknya. Tumbuh meranggas, dengan daun dan ranting seadanya. Bagaimana tidak, jika musim kemarau tiba. Si pohon bukit, harus menghujamkan urat-uratnya menembus bebatuan tebing. Dengan segenap tenaga. Demi mencapai air tuk kelansungan hidupnya.

Sementara si pohon lembah, tak perlu terlalu dalam menghujamkan uratnya ketanah. Cukup sedikit saja. Sudah mendapatkan air tuk kelangsungan hidupnya. Itu pun berlimpah. Dari anak sungai yang terus mengalir didasar lembah. Jika pohon lembah, jadi rebutan tuk tempat berteduh. Pohon bukit malah sebaliknya. Burung pun kadang seakan tak sudi mampir didahannya.

Itulah yang membuat pohon bukit, kadang sedih bermuram duka. Betapa enaknya jadi pohon lembah. Tak perlu hidup bersusah payah. Seperti dirinya. Tapi semua memujanya. Karena kesuburan dan kerimbunan daunnya.

Hingga, pohon bukit pun sampai pada kesimpulan yang tak semestinya. Berprasangka buruk pada sang pencipta. Betapa Allah tak adil pada diriNya.

Hingga suatu ketika, cuaca buruk pun melanda. Hujan berhari-hari mengguyur areal perbukitan dan lembah. Akibatnya, bencana pun melanda. Diawali suara gemuruh dari puncak bukit sana. Diikuti ribuan kubik air yang tumpah ruah. Menggulung pepohonan dan apa saja menuju lembah. Akibatnya, semua yang dilalui pun menjadi rata dengan tanah.

Tak dinyana, meski pohon bukit juga tersapu banjir bandang, ia masih tampak berdiri gagah. Walau beberapa dahannya terlihat patah. Berbeda dengan pohon lembah. Seluruh akarnya tercerabut dari tanah. Ikut terseret bersama pohon lainnya.

Barulah pohon bukit tersadar dari prasangka buruknya. Kerasnya proses hidup yang dialuinya, ternyata telah menguatkannya. Urat-uratnya yang menghujam jauh ke dalam ketanah, itulah ternyata yang telah membuatnya mampu bertahan dari sapuan air bah.

Tentu bagi kaum milenial, ini hanyalah cerita lama. Zaman sekarang, Orang tak ingin lagi berproses berlama-lama. Kalau bisa sukses dengan cepat, mengapa harus berproses lama. Cara-cara instanlah yang kini menjadi idola. Bahkan mengkonsumsi makanan instanpun, jadi idola.

Tapi berkacalah pada yang sudah. Memang zaman sekarang, banyak yang bisa sukses tiba-tiba. Ditambah lagi, dengan kecanggihan media dan teknologi yang ada. Tapi tengoklah. Jika kesuksesan tanpa melewati proses yang hebat. Tak akan bertahan lama. Jika hanya bermodalkan lip sync dan goyangan lagu India. Atau aplikasi T*k-t*k yang kini digandrungi anak remaja.

Jadi, sekeras apa pun hidup, jangan pernah menyerah. Karena itulah yang akan membuatmu kuat. Menjadikanmu sadar dan bersyukur akan nikmatnya.

Akhirnya, suasana Parewell Partty yang penuh hingar bingar musik kegembiraan. Jadi hening tiba-tiba. Menyadarinya, penulis akhiri saja pidatonyo. Begitu turun podium, para remaja itu pun menghampiri. Sambil salam dan mencium tangan saya.

Esoknya, usai shalat subuh, saya dihampiri seorang remaja. Ia bercerita, dari sebuah Desa di Jawa Timur. Agak jauh dari kota Surabaya. Ia masih Sekolah menengah, salah satu SMU favorit di Surabaya. Setamat SMU nanti, ia bercita-cita melanjutkan kuliah di Universitas terkemuka. Di benua Eropa. Melalui Beasiswa. “Apa yang bapak sampaikan malam tadi, begitu mengena dihati saya. Untuk mewujudkan impian saya”. Ujarnya. Ia pun minta nomor kontak saya. Alamat FB juga.

Malam tadi, tiba-tiba remaja itu japri saya. Kataya rindu membaca tulisa-tulisan saya. Di laman Mengikat Hikmah. Kok dah jarang muncul ya?.. “dah kurang pembacanya” dalih saya. Tapi saya selalu membacanya. Dari sini, dari benua Eropa. Ungkapnya. Alhamdulillah… kali ini justru giliran remaja itu yang menyemangati saya. Tuk menulis lagi kisah-kisah hikmah***

Penulis: Suardi, M.I.Kom

(Dosen Penulisan Feature FDK UIN Suska Riau)

simak Videonya di Link: https://youtu.be/1H8lXkyOF_I

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © mengikat-hikmah | Newsphere by AF themes.