February 25, 2021

Mengikat Hikmah

Memungut remah-remah hikmah disekitar kita

Membaca tak mesti Aksara

3 min read

Oleh: Suardi

Dari persfektif Komunikasi non verbal, penulis justru melihat lebih luas. Apapun peristiwa, kejadian yang memberikan makna dan hikmah bagi kita merupakan bagian dari proses membaca. Jadi membaca itu ada yang bersifat tekstual, ada yang bersifat non tekstual. Ada yang berbentuk aksara, ada yang berbentuk non aksara. Begitu kira-kira

Mengikat Hikmah – Foto diatas merupakan kebanggaan saya. Bocah yang ada didalamnya, anak kedua saya. Gemilang Mulyana namanya. Diambil saat ia masih Batita – (bayi tiga tahun). Setiap melihatnya, mengingatkan saya pada kebiasaanya. Pokoknya setiap melihat saya membaca, dia akan menangis meronta. Minta buku pula. Setelah itu dia akan pura-pura membaca pula seperti saya. Walau sebenarnya, saat itu ia belum mengenal aksara.

Kini Gemilang sudah memasuki usia sekolah. Sudah mengenal aksara. Tapi dibanding abangnya, dia paling malas bersekolah. Untung ibunya selalu punya jurus jitu, membujuknya. Pagi itu ibu membujuknya, jika sekolah PAUD tempatnya akan menggelar jalan-jalan ke meseum Sang Nila Utama. Akibatnya, Seminggu ini Gemilang pun rajin sekolah.

Gayung pun bersambut, ketika gurunya mengirim pesan di group WA orang tua. Bahwa sekolahnya berencana membuat acara jalan-jalan bersama. Berbagai respon pun datang menanggapinya. Tapi yang paling menarik peratian saya. Ketika seorang bapak-bapak meresponnya dengan kalimat marah. Ia melontarkan kekecewaanya perihal anaknya, yang sampai saat ini belum mengenal aksara. Apakah sekolah tak pernah mengajarkannya? Ungkapnya me-nanya.

Pada akhirnya, orang tua itu pun mengirim ultimatum kepada sekolah. Sebelum anaknya pandai membaca, ia takkan pernah izinkan anaknya untuk ikut acara jalan-jalan bersama. Bukankah sekolah itu bertujuan agar anak-anak pandai membaca? Begitu alasannya kira-kira.

Walau penulis bukanlah termasuk mempunyai pengetahuan dalam tentang agama, tapi sikit-sikit tau jugalah. Sebagai muslim, betapa agama kita menekankan pentingnya membaca. Bahkan ayat yang pertama turun itu, ialah perintah membaca. Walau pun sang Baginda kita, saat itu belum mengenal aksara. Namun Malaykat jibril tetap menyuruhnya membaca. Baca dengan menyebut nama Tuhan MU. Begitu kira-kira.

Tapi apa iya, membaca itu hanya berupa tekstual saja?. Menurut Wikipedia- Membaca adalah kegiatan meresepsi, menganalisis, dan mengintepretasi yang dilakukan oleh pembaca. Untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis dalam media tulisan. Kegiatan membaca meliputi membaca nyaring dan membaca dalam hati.

Prof Quraish Shihab dalam bukunya yang lain, “Membumikan” Al-Qur’an (Mizan, 1992) secara menarik menafsirkan istilah iqra’ ( yang biasa diartikan atau dipadankan dengan “membaca” saja). Prof Quraish Shihab, lewat studi etimologinya, menemukan salah satu makna istilah tersebut sebagai “menghimpun”. Artinya, seruan iqra’ itu bisa saja mengajak kita untuk “menghimpun makna”.

Dari persfektif Komunikasi non verbal, penulis justru melihat lebih luas. Apapun peristiwa, kejadian yang memberikan makna dan hikmah bagi kita merupakan bagian dari proses membaca. Jadi membaca itu ada yang bersifat tekstual, ada yang bersifat non tekstual. Ada yang berbentuk aksara, ada yang berbentuk non aksara. Begitu kira-kira.

Membaca menjadi sesuatu yang sangat ditekankan bagi agama Islam, karena menurut Hernowo dalam bukunya “Mengikat Makna” (Kaifa, 2001), membaca bisa menimbulkan kepekaan dan sikap kritis. Orang yang rajin membaca, baik tekstual maupun non tekstual, cenderung memiliki kepekaan yang tinggi. Hatinya akan mudah ter-enyuh, tergerak. Tentu saja ter enyuh dan tergerak dalam nama Tuhan, dalam konteks surat Iqra’.

Jadi, mari sama-sama kita terus membaca. Baik tekstual mau pun non tekstual, agar hati kita tak menjadi beku, keras seperti batu. Hingga menjadikan kita cuek, dan tak mau tau. Hingga fenomena mahasiswa sekarang, kebanyakan cuek dan tak mau tau bisa di-entaskan. Mari asah rasa kepedulian dengan banyak membaca, tekstual, maupun non tekstual.***

Penulis: Suardi, M.I.Kom

(Dosen Prodi Komunikasi UIN Suska Riau)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © mengikat-hikmah | Newsphere by AF themes.